SELAMAT DATANG KAWAND

MINTA SENYUMNYA DONG :-)

Minggu, 31 Oktober 2010

Sepak Bola tanpa Tiga K

Ketika Rusia kehilangan kebanggaan akibat perestroika yang mereka jalankan, 
langkah yang dilakukan Presiden Valdimir Putin adalah membangun kembali 
persepakbolaan negeri itu. Di era Uni Soviet mereka pernah begitu dihormati dan 
memiliki pemain-pemain besar seperti Lev Yashin di tahun 1960-an atau Oleg 
Blokhin di tahun 1980-an. 

Tidak mudah memang membangun kembali kebesaran itu. Tidak cukup hanya dengan 
mengagungkan kebesaran di masa lalu, tetapi dibutuhkan sebuah kerja keras. 

Kerja keras yang dilakukan Rusia baru menemukan hasil pada 2008. Melalui 
sentuhan pelatih bertangan dingin asal Belanda Guus Hiddink, Rusia mampu 
menapaki kembali kelompok elite sepak bola Eropa dengan menembus semifinal 
Piala Eropa 2008. 

Kepemimpinan yang kuat dari asosiasi sepak bola menjadi faktor penentu kemajuan 
sepak bola sebuah negara. Pemimpin bukan hanya harus memiliki visi sepak bola 
yang jelas, melainkan harus melengkapi dengan Tiga C, yaitu character, 
competency, dan connection atau dalam bahasa Indonesia disebut Tiga K, yaitu 
karakter, kompetensi, dan koneksi. 

Karakter menjadi faktor yang paling penting karena sepak bola, seperti halnya 
cabang olahraga lainnya, berkaitan dengan pembinaan dan pembentukan generasi 
muda. Melalui sepak bola kita ingin membentuk anak-anak muda untuk memiliki 
sikap disiplin, sportif, jujur, hormat kepada yang namanya pelatih, mau bekerja 
sama, dan pantang menyerah. 

Pemimpin organisasi olahraga bukan sekadar pemimpin organisasi biasa, tetapi 
dia adalah anutan. Ia harus merupakan orang yang terhormat dan tanpa cacat 
karena ia akan menjadi pembina untuk generasi mendatang. 

Hal ini berlaku universal. Yang namanya pemimpin cabang olahraga, pada dirinya 
melekat peran pembina. Ketika pemimpin itu tidak menunjukkan karakter yang 
baik, secara sportif mereka akan meletakkan jabatannya untuk digantikan oleh 
mereka yang dianggap lebih baik. 

Itulah yang dilakukan Presiden Asosiasi Sepak Bola Serbia (FSS) Zvezdan Terzic. 
Karena diduga mengambil keuntungan dalam transfer pemain, Terzic memilih mundur 
dari jabatan. 

Ia secara sportif meletakkan jabatan pada 12 Maret 2008 karena ia tidak mau 
dirinya menjadi penghambat perkembangan sepak bola Serbia. "Saya bangga dengan 
apa yang telah saya lakukan untuk sepak bola Serbia, mulai sebagai pemain, 
direktur klub, hingga menjadi Presiden FSS. Namun, dengan kondisi yang sedang 
saya hadapi, tidak bisa lain kecuali saya mengundurkan diri dari jabatan saya," 
kata Terzic. 

Sengaja kita angkat contoh kasus Terzic untuk menunjukkan bahwa menjadi 
pemimpin asosiasi sepak bola bukan semata-mata untuk kepentingan diri sendiri. 
Menjadi pemimpin asosiasi sepak bola bukan demi keharuman nama pribadi. Menjadi 
pemimpin asosiasi sepak bola adalah sebuah tanggung jawab membangun kebanggaan 
terutama bagi kaum muda agar menjadi kebanggaan bangsa dan negara. 

Inilah yang tidak dimiliki oleh kita. Terutama Ketua Umum Persatuan Sepak Bola 
Seluruh Indonesia (PSSI) yang menganggap jabatan yang diembannya sebagai hak 
pribadi. Ia lupa akan hak publik karena PSSI bukanlah perusahaan pribadi yang 
bisa dibuat sesuka hatinya. Ada pertanggungjawaban publik yang melekat pada 
jabatan tersebut. 

Apa tanggung jawab publik itu? Pertama, pembinaan kepada generasi muda. Ia 
harus menjadi contoh yang baik karena ia adalah anutan. 
Nurdin Halid harus mau mengakui bahwa dirinya tidak bisa menjadi anutan yang 
baik. Setidaknya kasus korupsi yang dilakukan dan telah dibuktikan bersalah 
oleh pengadilan menunjukkan bahwa ia bukanlah anutan yang baik bagi anak-anak 
muda. Kalau ia bekas seorang olahragawan seperti halnya Terzic, secara sportif 
seharusnya ia mengundurkan diri. 

Kedua, berkaitan dengan kompetensi yang tidak dimiliki. Sepanjang tujuh tahun 
kepemimpinannya prestasi sepak bola Indonesia tidak pernah bisa beranjak. 
Bahkan prestasi sepak bola nasional menjadi titik nadir di ajang SEA Games XXV 
di Laos. 

Buruknya prestasi sepak bola Indonesia juga bisa dilihat dari kualitas 
klub-klub ketika bertanding di ajang internasional. Klub-klub Indonesia bukan 
tidak mampu bersaing di ajang internasional, tetapi menjadi bulan-bulan klub 
lain. 

Hal itu diperparah dengan kompetisi yang sarat dengan permainan. Pengaturan 
skor begitu menonjol, di samping kompetisi yang sering diwarnai insiden, baik 
yang dilakukan pemain di lapangan maupun penonton di luar lapangan. 

Sepak bola di Indonesia tidak lagi menjadi kompetisi yang menghibur dan 
menyehatkan, tetapi sudah berubah menjadi tontonan yang menakutkan. Perusakan 
fasilitas publik begitu sering terjadi karena pimpinan sepak bola kehilangan 
kredibilitasnya. 

Faktor ketiga adalah koneksi. Pembinaan sepak bola sebagai pembinaan bangsa 
tidak mungkin dilakukan sendiri. Dibutuhkan adanya dukungan dari pemerintah 
untuk penyediaan infrastruktur, kalangan dunia usaha untuk pendanaan, dan 
masyarakat sebagai penopang keberhasilan. 

Ketidakmampuan pimpinan PSSI dalam membangun koneksi membuat institusi itu 
ibarat berjalan sendiri. Pemerintah tidak mendukung kegiatan PSSI karena sudah 
kehilangan kepercayaan pada pimpinannya. Demikian pula dengan kalangan dunia 
usaha yang enggan untuk ikut terlibat dalam pembiayaan sepak bola karena 
pertandingan sepak bola bukanlah kegiatan yang menghibur dan menyehatkan. 

Masyarakat sendiri merasa enggan mendukung sepak bola karena di samping 
prestasi yang tidak bisa dibanggakan, tidak ada manfaat yang bisa dipetik. 
Dalam konteks memberi hiburan, sama sekali tidak ada yang bisa diberikan dari 
pertandingan sepak bola di Indonesia. Yang ada hanyalah ketakutan, karena 
pertandingan sepak bola selalu diwarnai dengan kerusuhan. 

Dalam konteks itu saatnya PSSI harus melakukan perombakan besar-besaran. 
Terutama di sisi kepemimpinan, PSSI membutuhkan figur baru yang mampu 
membangunkan harapan. 

Kongres Sepak Bola Nasional yang akan digelar di Malang, Jawa Timur, pada 30 
dan 31 Maret merupakan momentum untuk melakukan perubahan besar. Semua pemangku 
kepentingan harus terbuka karena ini berkaitan dengan nasib persepakbolaan 
nasional kita ke depan. Tidak ada satu pun yang berhak untuk mengklaim menjadi 
pemilik sepak bola, apalagi mengatakan sebagai hak yang tidak bisa diganggu 
gugat. 

Sudah terlalu lama persepakbolaan Indonesia terpuruk. Terakhir pada 1991 ketika 
Tim Merah Putih keluar sebagai juara di SEA Games Manila. Kita harus bangkit 
kembali dengan kepemimpinan yang segar, ide yang segar, dan semangat yang 
segar, karena itulah kunci untuk membangun kembali kebanggaan. 


Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: "Suryopratomo" <suryo_prat...@yahoo.com>
Date: Wed, 31 Mar 2010 00:59:18 
To: <ipb-l...@yahoogroups.com>; <forum-pembaca-kom...@yahoo.groups.com>
Subject: [linkers] Sepak Bola dan Pemimpin

Sepak Bola tanpa Tiga K

Ketika Rusia kehilangan kebanggaan akibat perestroika yang mereka jalankan, 
langkah yang dilakukan Presiden Valdimir Putin adalah membangun kembali 
persepakbolaan negeri itu. Di era Uni Soviet mereka pernah begitu dihormati dan 
memiliki pemain-pemain besar seperti Lev Yashin di tahun 1960-an atau Oleg 
Blokhin di tahun 1980-an. 

Tidak mudah memang membangun kembali kebesaran itu. Tidak cukup hanya dengan 
mengagungkan kebesaran di masa lalu, tetapi dibutuhkan sebuah kerja keras. 

Kerja keras yang dilakukan Rusia baru menemukan hasil pada 2008. Melalui 
sentuhan pelatih bertangan dingin asal Belanda Guus Hiddink, Rusia mampu 
menapaki kembali kelompok elite sepak bola Eropa dengan menembus semifinal 
Piala Eropa 2008. 

Kepemimpinan yang kuat dari asosiasi sepak bola menjadi faktor penentu kemajuan 
sepak bola sebuah negara. Pemimpin bukan hanya harus memiliki visi sepak bola 
yang jelas, melainkan harus melengkapi dengan Tiga C, yaitu character, 
competency, dan connection atau dalam bahasa Indonesia disebut Tiga K, yaitu 
karakter, kompetensi, dan koneksi. 

Karakter menjadi faktor yang paling penting karena sepak bola, seperti halnya 
cabang olahraga lainnya, berkaitan dengan pembinaan dan pembentukan generasi 
muda. Melalui sepak bola kita ingin membentuk anak-anak muda untuk memiliki 
sikap disiplin, sportif, jujur, hormat kepada yang namanya pelatih, mau bekerja 
sama, dan pantang menyerah. 

Pemimpin organisasi olahraga bukan sekadar pemimpin organisasi biasa, tetapi 
dia adalah anutan. Ia harus merupakan orang yang terhormat dan tanpa cacat 
karena ia akan menjadi pembina untuk generasi mendatang. 

Hal ini berlaku universal. Yang namanya pemimpin cabang olahraga, pada dirinya 
melekat peran pembina. Ketika pemimpin itu tidak menunjukkan karakter yang 
baik, secara sportif mereka akan meletakkan jabatannya untuk digantikan oleh 
mereka yang dianggap lebih baik. 

Itulah yang dilakukan Presiden Asosiasi Sepak Bola Serbia (FSS) Zvezdan Terzic. 
Karena diduga mengambil keuntungan dalam transfer pemain, Terzic memilih mundur 
dari jabatan. 

Ia secara sportif meletakkan jabatan pada 12 Maret 2008 karena ia tidak mau 
dirinya menjadi penghambat perkembangan sepak bola Serbia. "Saya bangga dengan 
apa yang telah saya lakukan untuk sepak bola Serbia, mulai sebagai pemain, 
direktur klub, hingga menjadi Presiden FSS. Namun, dengan kondisi yang sedang 
saya hadapi, tidak bisa lain kecuali saya mengundurkan diri dari jabatan saya," 
kata Terzic. 

Sengaja kita angkat contoh kasus Terzic untuk menunjukkan bahwa menjadi 
pemimpin asosiasi sepak bola bukan semata-mata untuk kepentingan diri sendiri. 
Menjadi pemimpin asosiasi sepak bola bukan demi keharuman nama pribadi. Menjadi 
pemimpin asosiasi sepak bola adalah sebuah tanggung jawab membangun kebanggaan 
terutama bagi kaum muda agar menjadi kebanggaan bangsa dan negara. 

Inilah yang tidak dimiliki oleh kita. Terutama Ketua Umum Persatuan Sepak Bola 
Seluruh Indonesia (PSSI) yang menganggap jabatan yang diembannya sebagai hak 
pribadi. Ia lupa akan hak publik karena PSSI bukanlah perusahaan pribadi yang 
bisa dibuat sesuka hatinya. Ada pertanggungjawaban publik yang melekat pada 
jabatan tersebut. 

Apa tanggung jawab publik itu? Pertama, pembinaan kepada generasi muda. Ia 
harus menjadi contoh yang baik karena ia adalah anutan. 
Nurdin Halid harus mau mengakui bahwa dirinya tidak bisa menjadi anutan yang 
baik. Setidaknya kasus korupsi yang dilakukan dan telah dibuktikan bersalah 
oleh pengadilan menunjukkan bahwa ia bukanlah anutan yang baik bagi anak-anak 
muda. Kalau ia bekas seorang olahragawan seperti halnya Terzic, secara sportif 
seharusnya ia mengundurkan diri. 

Kedua, berkaitan dengan kompetensi yang tidak dimiliki. Sepanjang tujuh tahun 
kepemimpinannya prestasi sepak bola Indonesia tidak pernah bisa beranjak. 
Bahkan prestasi sepak bola nasional menjadi titik nadir di ajang SEA Games XXV 
di Laos. 

Buruknya prestasi sepak bola Indonesia juga bisa dilihat dari kualitas 
klub-klub ketika bertanding di ajang internasional. Klub-klub Indonesia bukan 
tidak mampu bersaing di ajang internasional, tetapi menjadi bulan-bulan klub 
lain. 

Hal itu diperparah dengan kompetisi yang sarat dengan permainan. Pengaturan 
skor begitu menonjol, di samping kompetisi yang sering diwarnai insiden, baik 
yang dilakukan pemain di lapangan maupun penonton di luar lapangan. 

Sepak bola di Indonesia tidak lagi menjadi kompetisi yang menghibur dan 
menyehatkan, tetapi sudah berubah menjadi tontonan yang menakutkan. Perusakan 
fasilitas publik begitu sering terjadi karena pimpinan sepak bola kehilangan 
kredibilitasnya. 

Faktor ketiga adalah koneksi. Pembinaan sepak bola sebagai pembinaan bangsa 
tidak mungkin dilakukan sendiri. Dibutuhkan adanya dukungan dari pemerintah 
untuk penyediaan infrastruktur, kalangan dunia usaha untuk pendanaan, dan 
masyarakat sebagai penopang keberhasilan. 

Ketidakmampuan pimpinan PSSI dalam membangun koneksi membuat institusi itu 
ibarat berjalan sendiri. Pemerintah tidak mendukung kegiatan PSSI karena sudah 
kehilangan kepercayaan pada pimpinannya. Demikian pula dengan kalangan dunia 
usaha yang enggan untuk ikut terlibat dalam pembiayaan sepak bola karena 
pertandingan sepak bola bukanlah kegiatan yang menghibur dan menyehatkan. 

Masyarakat sendiri merasa enggan mendukung sepak bola karena di samping 
prestasi yang tidak bisa dibanggakan, tidak ada manfaat yang bisa dipetik. 
Dalam konteks memberi hiburan, sama sekali tidak ada yang bisa diberikan dari 
pertandingan sepak bola di Indonesia. Yang ada hanyalah ketakutan, karena 
pertandingan sepak bola selalu diwarnai dengan kerusuhan. 

Dalam konteks itu saatnya PSSI harus melakukan perombakan besar-besaran. 
Terutama di sisi kepemimpinan, PSSI membutuhkan figur baru yang mampu 
membangunkan harapan. 

Kongres Sepak Bola Nasional yang akan digelar di Malang, Jawa Timur, pada 30 
dan 31 Maret merupakan momentum untuk melakukan perubahan besar. Semua pemangku 
kepentingan harus terbuka karena ini berkaitan dengan nasib persepakbolaan 
nasional kita ke depan. Tidak ada satu pun yang berhak untuk mengklaim menjadi 
pemilik sepak bola, apalagi mengatakan sebagai hak yang tidak bisa diganggu 
gugat. 

Sudah terlalu lama persepakbolaan Indonesia terpuruk. Terakhir pada 1991 ketika 
Tim Merah Putih keluar sebagai juara di SEA Games Manila. Kita harus bangkit 
kembali dengan kepemimpinan yang segar, ide yang segar, dan semangat yang 
segar, karena itulah kunci untuk membangun kembali kebanggaan. 
http://www.mail-archive.com/forum-pembaca-kompas@yahoogroups.com/msg103927.html